Advertisement

» Cerita Rakyat

  • Datu Kalaka
    By Pendongeng on March 29th, 2010 | No Comments Comments

    Menurut cerita orang tua-tua beberapa abad yang lalu, di suatu kampung tinggallah seorang lelaki bernama Datu Kalaka. Ia amat disegani dan dihormati orang-orang di kampung itu karena ia menjadi pemimpin masyarakat di sana. Itu pula sebabnya ia diberi gelar datu oleh masyarakat.

  • Asal Mula Kata “Assasin”
    By Pendongeng on March 26th, 2010 | 3 Comments3 Comments Comments

    Kaum Ismaili, demikian nama mazhab ini, telah menimbulkan kesulitan-kesulitan pada pejuang Perang Salib dari Eropa, dan para pejuang ini telah menciptakan kata “assassin”, yang berarti pembunuh, – yang berasal dari kata hashishin – untuk memberi nama mereka.

  • Legenda Telaga Bidadari
    By Pendongeng on March 24th, 2010 | 6 Comments6 Comments Comments

    Telaga itu tidak seberapa lebar dan dalam, kurang lebih tiga meter panjangnya dan dua meter lebarnya dengan kedalaman dua meter. Airnya Bening dan jernih, tidak pernah kering walau kemarau panjang sekalipun. Letaknya di atas sebuah pematang, di bawah keteduhan, kelebatan, dan kerindangan pepohonan, khususnya pohon limau. Jika pohon-pohon limau itu berbunga, berkerumunlah burung-burung dan serangga mengisap madu. Di permukaan tanah itu menjalar dengan suburnya sejenis tumbuhan, gadung namanya. Gadung mempunyai umbi yang besar dan dapat dibuat menjadi kerupuk yang gurih dan enak rasanya. Akan tetapi, jika kurang mahir mengolah bisa menjadi racun bagi orang yang memakannya karena memabukkan.

  • Ular Dandaung
    By Pendongeng on March 19th, 2010 | 2 Comments2 Comments Comments

    Konon, dahulu kala ada sebuah kerajaan. Tidak disebutkan oleh pencerita apa nama kerajaan itu. Menurut cerita, kerajaan itu cukup besar. Negerinya kaya raya sehingga penghasilan rakyat melimpah ruah. Rajanya adil dan bijaksana. Kekayaan kerajaan bukan hanya dinikmati raja dan keluarganya, tetapi rakyat pun turut menikmati. Pantaslah jika kerajaan itu selalu dalam suasana tenteram dan damai. Dengan kerajaan-kerajaan lain pun, tidak pernah terjadi silang sengketa sehingga mereka dapat hidup berdampingan secara damai.

  • Si Angkri Jagoan Pasar Ikan
    By Pendongeng on March 10th, 2010 | No Comments Comments

    Bai sama juga. Begitu tahu kalau yang dihadapi tiga anggota keamanan yang lengkap dengan pentung dan senapan, Bai berlutut seketika. Kemudian giliran Angkri. Bek Kasan marah dan menantang Angkri berkelahi satu lawan satu. Angkri melayani. Pertarungan seru. Angkri mencabut goloknya. Akan tetapi, sudah didahului tendangan keras dari kaki Bek Kasan. Golok Angkri terpental ke lumpur. Seketika itu Angkri menggunakan jurus-jurus silatnya. Bek Kasan kena sodok perutnya. Jatuh telentang. Begitu Bek Kasan jatuh di tanah, Angkri meloncat dengan kedua lutut di depan. Biar mampus Bek Kasan. Mungkin perutnya bisa ambrol. Akan tetapi, Bek Kasan sudah memperhitungkan. Dia cepat mengelak ke kanan sehingga kedua lutut Angkri menghunjam ke batu. Setelah itu, Angkri tidak bisa berjalan. Kedua lututnya seperti pecah. Bek Kasan segera memegang kepala Angkri. Rambutnya ditarik, Angkri menyerah. Dia dibawa ke kantor opas di Kota Intan. Atas keputusan hakim, Angkri dianggap sebagai biangnya. Madun dan Bai masuk penjara beberapa tahun, sedangkan Angkri menjalani hukuman gantung.

  • Pageran Sarif
    By Pendongeng on March 3rd, 2010 | No Comments Comments

    Jatuhnya Jayakarta ke tangan Kompeni Belanda pada tahun 1619 membuat banyak ulama marah. Mereka menjauhi keramaian kota dan pergi berbondong-bondong ke tempat yang lebih udik. Mereka melakukan persiapan, siapa tahu suatu saat dapat melakukan pembalasan untuk menguasai kota Jayakarta kembali. Walaupun kenyataannya sulit, mereka tidak kenal putus asa. Mereka terpaksa hidup di tepi-tepi hutan, sedangkan anak dan istri ditinggalkan beberapa saat. Hanya pada saat tertentu mereka berkumpul, sesudah itu berpisah kembali. Karena keadaan yang terus menekan, lama-kelamaan merepotkan juga kalau keluarga ditinggalkan. Mau tidak mau keluarga harus diajak. Salah seorang dari para ulama itu adalah Pangeran Sarif. Selain istri, ikut juga seorang pembantu lelakinya yang masih muda.

  • Mandin Tangkaramin
    By Pendongeng on March 1st, 2010 | 3 Comments3 Comments Comments

    Loksado adalah salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan. Di sana ada sebuah desa bernama Malinau. Kira-kira satu kilometer dari tempat itu ada sebuah air terjun bernama Mandin Tangkaramin. Konon, menurut Bahasa penduduk di sana, mandin berarti air terjun. Jadi, Mandin Tangkaramin berarti air terjun Tangkaramin. Akan tetapi, kata mandin sudah menyatu dengan Tangkaramin sehingga kedua kata itu tak terpisahkan.

  • Asal Usul Kota Banjarmasin
    By Pendongeng on February 24th, 2010 | 2 Comments2 Comments Comments

    Pada zaman dahulu berdirilah sebuah kerajaan bernama Nagara Daha. Kerajaan itu didirikan Putri Kalungsu bersama putranya, Raden Sari Kaburangan alias Sekar Sungsang yang bergelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan. Konon, Sekar Sungsang seorang penganut Syiwa. la mendirikan candi dan lingga terbesar di Kalimantan Selatan. Candi yang didirikan itu bernama Candi Laras. Pengganti Sekar Sungsang adalah Maharaja Sukarama. Pada masa pemerintahannya, pergolakan berlangsung terus-menerus. Walaupun Maharaja Sukarama mengamanatkan agar cucunya, Pangeran Samudera, kelak menggantikan tahta, Pangeran Mangkubumi-lah yang naik takhta.