<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
xmlns:rawvoice="http://www.rawvoice.com/rawvoiceRssModule/"
> <channel><title>Comments on: Hari-hari Akhir Si Pitung</title> <atom:link href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html</link> <description>Lestarikan dongeng dan cerita rakyat Indonesia &#38; Nusantara</description> <lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 10:26:26 +0000</lastBuildDate> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator> <xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /> <item><title>By: Sinta Melati</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-4#comment-1840</link> <dc:creator>Sinta Melati</dc:creator> <pubDate>Fri, 18 May 2012 10:38:48 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-1840</guid> <description>lumayan</description> <content:encoded><![CDATA[<p>lumayan</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Billy Van Persie</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-3#comment-1822</link> <dc:creator>Billy Van Persie</dc:creator> <pubDate>Tue, 15 May 2012 11:21:58 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-1822</guid> <description>asoy</description> <content:encoded><![CDATA[<p>asoy</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Danang El Che</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-3#comment-1814</link> <dc:creator>Danang El Che</dc:creator> <pubDate>Mon, 14 May 2012 17:55:01 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-1814</guid> <description>kerennnn</description> <content:encoded><![CDATA[<p>kerennnn</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Danang El Che</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-3#comment-1815</link> <dc:creator>Danang El Che</dc:creator> <pubDate>Mon, 14 May 2012 17:55:01 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-1815</guid> <description>kerennnn</description> <content:encoded><![CDATA[<p>kerennnn</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Galuh Hasan Bachtiar</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-3#comment-1721</link> <dc:creator>Galuh Hasan Bachtiar</dc:creator> <pubDate>Wed, 02 May 2012 13:47:17 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-1721</guid> <description>mantapp!</description> <content:encoded><![CDATA[<p>mantapp!</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: akadewa</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-3#comment-1338</link> <dc:creator>akadewa</dc:creator> <pubDate>Fri, 30 Sep 2011 08:59:42 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-1338</guid> <description>saya suka saya suka,,I like iT...</description> <content:encoded><![CDATA[<p>saya suka saya suka,,I like iT&#8230;</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Pendongeng</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-2#comment-1314</link> <dc:creator>Pendongeng</dc:creator> <pubDate>Wed, 21 Sep 2011 10:55:56 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-1314</guid> <description>@Teguh Setiawan, saya setuju dengan pendapat anda. Kekuatan Entong Gendut ada di kharisma dan mampu mengumpulkan massa untuk melawan kompeni. Untuk cerita Entong Gendut Dari Batuampar bisa dibaca di: http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html</description> <content:encoded><![CDATA[<p>@Teguh Setiawan, saya setuju dengan pendapat anda. Kekuatan Entong Gendut ada di kharisma dan mampu mengumpulkan massa untuk melawan kompeni. Untuk cerita Entong Gendut Dari Batuampar bisa dibaca di: <a
href="http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html" rel="nofollow">http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html</a></p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: rambang kembarasari</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-2#comment-1118</link> <dc:creator>rambang kembarasari</dc:creator> <pubDate>Thu, 26 May 2011 03:17:20 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-1118</guid> <description>Agak membingungkan memang, diatas dikatakan Pitung wafat tahun 1893 sementara tahun 1912 dikatakan dia masih beraksi di Betawi. Saya cenderung mengatakan dia tidak wafat di tahun 1893.Cerita si Pitung bukan dongeng sebelum tidur. Nenek yang merupakan anak dari bek ( wijk/lurah ) Siman ( H. Nasiman ) di Sawah Besar menceritakan bahwa Pitung pernah berurusan dengan bek Siman. Dan menurut nenek yang butahuruf, kepala polisi itu bernama sekaut ( scout ) Hene ( dibaca &quot;e&quot; dari kata heran ( dialek Betawi ), mungkin nama sebenarnya Heyne. Waktu itu bang Pitung menghadiahi bek Siman durian sepikul dan sebilah golok yang sekarang sudah tidak ada lagi diketurunan bek Siman.
Sebagai bek, H. Nasiman patuh pada aturan tetapi sebagai pendekar bang Pitung menghormati pak bek.Wassalam.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Agak membingungkan memang, diatas dikatakan Pitung wafat tahun 1893 sementara tahun 1912 dikatakan dia masih beraksi di Betawi. Saya cenderung mengatakan dia tidak wafat di tahun 1893.Cerita si Pitung bukan dongeng sebelum tidur. Nenek yang merupakan anak dari bek ( wijk/lurah ) Siman ( H. Nasiman ) di Sawah Besar menceritakan bahwa Pitung pernah berurusan dengan bek Siman. Dan menurut nenek yang butahuruf, kepala polisi itu bernama sekaut ( scout ) Hene ( dibaca &#8220;e&#8221; dari kata heran ( dialek Betawi ), mungkin nama sebenarnya Heyne. Waktu itu bang Pitung menghadiahi bek Siman durian sepikul dan sebilah golok yang sekarang sudah tidak ada lagi diketurunan bek Siman.<br
/> Sebagai bek, H. Nasiman patuh pada aturan tetapi sebagai pendekar bang Pitung menghormati pak bek.Wassalam.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Teguh Setiawan</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-2#comment-629</link> <dc:creator>Teguh Setiawan</dc:creator> <pubDate>Fri, 08 Oct 2010 00:26:00 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-629</guid> <description>Saya jadi bingung, mengapa tidak ada sejarawan yang tertarik menelusuri kebenaran cerita Si Pitung. Akibatnya, Si Pitung dikonsumsi rakyat sebagai legenda, cerita tutur, atau dongeng sebelum tidur.
Sebagai dongeng, cerita Si Pitung sarat mistis, tak kaya simbol-simbol yang tak terpecahkan. Si Pitung ditembak peluru emas adalah analogi, atau mungkin simbol, yang mungkin cenderung menghina, bukan memperlihatkan kehebatannya.
Si Pitung tak ubahnya dongeng modern ala-AS yang bernama Rambo; pendekar tunggal yang melawan kekuatan dengan &#039;kesaktian&#039; bertempur.
Kalau pun ada yang berusaha melihat Si Pitung dengan cara yang sedikit ilmiah, mungkin hanya Pramoedya Ananta Toer. Dalam salah satu tetraloginya, Pram melihat Pitung bukan sebagai pendekar, tapi pemimpin gerakan pemberontakan di tanah-tanah partikelir.
Menurut Pram, Pitung tidak dibunuh Kapolsek Belanda, tapi kepala polisi Batavia yang notabene orang Menado berpendidikan Prancis. Pram tampaknya berupaya mendudukan Pitung sebagai &#039;pahlawan&#039; sub-lokal sesungguhnya.
Saya nggak tahu apakah arsip Belanda mencatat secara lengkap soal Si Pitung. Jika tercatat, pasti sudah menjadi bahan penelitian.
Yang pasti, jika benar Si Pitung beraksi di tahun 1912, ia bukan satu-satunya &#039;pemberontak&#039; di atas tanah partikelir. Entong Gendut dari Batuampar lebih menarik untuk dikaji, dan tampaknya tercatat dalam arsip Belanda. Buktinya, seorang kawan saya sempat meneliti sampai ke Leiden, Belanda.
Gerakan perlawanan di tanah partikelir bukan hanya terjadi di pinggiran Jakarta, tapi hampir di seluruh Jawa. Menurut Pram, semuanya terinspirasi perlawanan tunggal Si Pitung. Entong Gendut juga demikian. Di surabaya ada Prawirodiharjo dan Pak Siti.
Gerakan-gerakan perlawanan itu berfaham ideologi mesianistik. Lalu berkembang sampai tahun 1920-an, menjadi gerakan ideologi Marxis-Islam.
Wajar jika cerita Si Pitung hanya menjadi dongeng sebelum tidur, karena masyarakatnya menganggap dia mesiah. Sebagai mesiah, Si Pitung dianggap punya mukziat -- mirip cerita para nabi. Sekian generasi Betawi tak cerdas berikutnya juga mengkonsumsi cerita Si Pitung sebagai dongeng sebelum tidur, karena diwarisi faham mesianistis.
Entong Gendur dari Batuampar tidak demikian, karena dia bukan mesiah. Dia pemimpin gerakan, punya kharisma. Di dalam masyarakat tradisional Betawi, Entong Gendut tidak bisa dikonsumsi sebagai dongeng sebelum tidur, dia pelaku sejarah yang tercatat.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Saya jadi bingung, mengapa tidak ada sejarawan yang tertarik menelusuri kebenaran cerita Si Pitung. Akibatnya, Si Pitung dikonsumsi rakyat sebagai legenda, cerita tutur, atau dongeng sebelum tidur.</p><p>Sebagai dongeng, cerita Si Pitung sarat mistis, tak kaya simbol-simbol yang tak terpecahkan. Si Pitung ditembak peluru emas adalah analogi, atau mungkin simbol, yang mungkin cenderung menghina, bukan memperlihatkan kehebatannya.</p><p>Si Pitung tak ubahnya dongeng modern ala-AS yang bernama Rambo; pendekar tunggal yang melawan kekuatan dengan &#8216;kesaktian&#8217; bertempur.</p><p>Kalau pun ada yang berusaha melihat Si Pitung dengan cara yang sedikit ilmiah, mungkin hanya Pramoedya Ananta Toer. Dalam salah satu tetraloginya, Pram melihat Pitung bukan sebagai pendekar, tapi pemimpin gerakan pemberontakan di tanah-tanah partikelir.</p><p>Menurut Pram, Pitung tidak dibunuh Kapolsek Belanda, tapi kepala polisi Batavia yang notabene orang Menado berpendidikan Prancis. Pram tampaknya berupaya mendudukan Pitung sebagai &#8216;pahlawan&#8217; sub-lokal sesungguhnya.</p><p>Saya nggak tahu apakah arsip Belanda mencatat secara lengkap soal Si Pitung. Jika tercatat, pasti sudah menjadi bahan penelitian.</p><p>Yang pasti, jika benar Si Pitung beraksi di tahun 1912, ia bukan satu-satunya &#8216;pemberontak&#8217; di atas tanah partikelir. Entong Gendut dari Batuampar lebih menarik untuk dikaji, dan tampaknya tercatat dalam arsip Belanda. Buktinya, seorang kawan saya sempat meneliti sampai ke Leiden, Belanda.</p><p>Gerakan perlawanan di tanah partikelir bukan hanya terjadi di pinggiran Jakarta, tapi hampir di seluruh Jawa. Menurut Pram, semuanya terinspirasi perlawanan tunggal Si Pitung. Entong Gendut juga demikian. Di surabaya ada Prawirodiharjo dan Pak Siti.</p><p>Gerakan-gerakan perlawanan itu berfaham ideologi mesianistik. Lalu berkembang sampai tahun 1920-an, menjadi gerakan ideologi Marxis-Islam.</p><p>Wajar jika cerita Si Pitung hanya menjadi dongeng sebelum tidur, karena masyarakatnya menganggap dia mesiah. Sebagai mesiah, Si Pitung dianggap punya mukziat &#8212; mirip cerita para nabi. Sekian generasi Betawi tak cerdas berikutnya juga mengkonsumsi cerita Si Pitung sebagai dongeng sebelum tidur, karena diwarisi faham mesianistis.</p><p>Entong Gendur dari Batuampar tidak demikian, karena dia bukan mesiah. Dia pemimpin gerakan, punya kharisma. Di dalam masyarakat tradisional Betawi, Entong Gendut tidak bisa dikonsumsi sebagai dongeng sebelum tidur, dia pelaku sejarah yang tercatat.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: ekiel</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/comment-page-2#comment-590</link> <dc:creator>ekiel</dc:creator> <pubDate>Wed, 22 Sep 2010 08:02:56 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241#comment-590</guid> <description>si Pitung</description> <content:encoded><![CDATA[<p>si Pitung</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- This Quick Cache file was built for (  dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/feed ) in 3.90187 seconds, on May 19th, 2012 at 11:05 am UTC. -->
<!-- This Quick Cache file will automatically expire ( and be re-built automatically ) on May 19th, 2012 at 12:05 pm UTC -->
