Advertisement

Malin Kundang

    Print This Post Print This Post
  • GD Star Rating
    loading...
    Malin Kundang

    Malin Kundang

    Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang.

    Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

    Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.

    Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

    Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.

    Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

    Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

    Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

    Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

    Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.

    Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.

    GD Star Rating
    loading...
13 Comments
  1. #1 reves
    November 30th, 2009 at 6:39 pm

    makanye jangan jadi anak yang durhaka terhadap kedua orang tua dan janga pernah mambantah

    Post ReplyPost Reply
  2. #2 rita
    December 28th, 2009 at 2:15 pm

    cerita ini mengandung pesan bahwa kita tidak boleh durhaka terhadap orang tua. Moga kita menjadi anak yang patuh kepada orang tua

    Post ReplyPost Reply
  3. #3 dina mute
    January 26th, 2010 at 8:34 pm

    ntuk tu jgn la durhaka kpd ornk tua.
    turtin nasehat ortu kmu.,..
    okeeeee……

    Post ReplyPost Reply
  4. #4 puty alifa
    March 25th, 2010 at 10:24 am

    Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu…….

    Post ReplyPost Reply
  5. #5 rayhan
    April 2nd, 2010 at 9:00 am

    btol btol btol………. anak durhaka tak boleh durhaka same orang tuanye nye……….. nanti banyak dose……… JANGAN DITIRU………..

    Post ReplyPost Reply
  6. #6 zyaqiah
    April 11th, 2010 at 4:03 pm

    jgn sMpe tEruLang l9iiiiiiiiiieeeeeeeeeee………….. amieen” bangKik paDank,,

    Post ReplyPost Reply
  7. #7 Nur Rahma yaUlfa
    April 14th, 2010 at 7:16 pm

    makanya jadi anak harus sopan dan hormat kepada orang tuakita karena dia telah melahirkan kita dan membesarkan kita…..jadi di suatu saat kita sukse kita harus ingat kepada kedua orang tua kita…… jangan seperti kisah si Lancang dan Lagenda Maling Kundang, yang durhaka kepada ibunya yang melahirkan dan memebesarkan dia dengan susah paya eh…dia malah durhaka….. akhirnya mereka mendapat balsanya dari kekeuasan Allah….
    dan satu peribahasa untuk kalian semuah…….
    Air susu di balas Air tubah
    yang mengartikan, kebaikan dibals dengan kejahatan

    Post ReplyPost Reply
  8. #8 Gamer
    April 16th, 2010 at 4:18 pm

    Kita ambil sisi positif dari cerita seperti itu…

    Post ReplyPost Reply
  9. #9 cherryn
    April 17th, 2010 at 5:49 pm

    iya sich….tapi jaman gini banyak banget anak yang durhaka m ortu nya cuman karena ortu jaman gini terlalu sayang m anaknya ya jd gitulah

    Post ReplyPost Reply
  10. #10 titania
    April 26th, 2010 at 8:20 pm

    tuch denger kata ortu!!!!!!!!!! :-)

    Post ReplyPost Reply
  11. #11 Donita K.A.Z
    June 23rd, 2010 at 8:52 am

    Dasar Maling Kondang! He he he…

    Post ReplyPost Reply
  12. #12 decky
    June 29th, 2010 at 8:36 pm

    nah,…… teman2 jangan meniru sifat malin kundang

    Post ReplyPost Reply
  • Trackback: Malin Kundang « Davidleonardopanjaitan's Blog Trackbacks
  • Leave a Comment