<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
xmlns:rawvoice="http://www.rawvoice.com/rawvoiceRssModule/"
> <channel><title>Dongeng Anak dan Cerita Rakyat &#187; Jakarta</title> <atom:link href="http://dongeng.org/tag/jakarta/feed" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://dongeng.org</link> <description>Lestarikan dongeng dan cerita rakyat Indonesia &#38; Nusantara</description> <lastBuildDate>Wed, 25 Apr 2012 11:46:58 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator> <xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /><itunes:summary>Lestarikan dongeng dan cerita rakyat Indonesia &amp; Nusantara</itunes:summary> <itunes:author>Dongeng Anak dan Cerita Rakyat</itunes:author> <itunes:explicit>no</itunes:explicit> <itunes:image href="http://dongeng.org/wp-content/plugins/powerpress/itunes_default.jpg" /> <itunes:subtitle>Lestarikan dongeng dan cerita rakyat Indonesia &amp; Nusantara</itunes:subtitle> <image><title>Dongeng Anak dan Cerita Rakyat &#187; Jakarta</title> <url>http://dongeng.org/wp-content/plugins/powerpress/rss_default.jpg</url><link>http://dongeng.org</link> </image> <item><title>Hari-hari Akhir Si Pitung</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html</link> <comments>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html#comments</comments> <pubDate>Fri, 30 Dec 2011 09:04:01 +0000</pubDate> <dc:creator>Pendongeng</dc:creator> <category><![CDATA[Nusantara]]></category> <category><![CDATA[Tokoh]]></category> <category><![CDATA[belanda]]></category> <category><![CDATA[betawi]]></category> <category><![CDATA[Jakarta]]></category> <category><![CDATA[Pahlawan]]></category> <category><![CDATA[pendekar]]></category> <category><![CDATA[penjajah]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=241</guid> <description><![CDATA[Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi.
Related posts:<ol><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-pitung.html' rel='bookmark' title='Si Pitung'>Si Pitung</a> <small>Pitung adalah salah satu pendekar orang asli Indonesia berasal dari daerah betawi yang berasal dari kampung Rawabelong Jakarta Barat. Pitung dididik oleh kedua orang tuanya berharap menjadi orang saleh taat agama. Ayahnya Bang Piun dan Ibunya Mpok Pinah menitipkan si Pitung untuk belajar mengaji dan mempelajari bahasa Arab kepada Haji Naipin.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html' rel='bookmark' title='Entong Gendut Dari Batuampar'>Entong Gendut Dari Batuampar</a> <small>Pajak seyogianya diambil seperlima dari hasil panen. Bagian itu bisa berwujud padi, palawija, atau hasil pertanian lainnya, semuanya harus diserahkan kepada tuan tanah. Setelah tahun 1912, tuan tanah tidak mau lagi menerima bagian pajaknya. Dia minta kenaikan dua kali lipat. Alasannya, antara lain karena hasil panen jauh lebih bagus dari musim lalu. Dengan perbaikan sistem irigasi dari sungai ke sawah-sawah membuat hasil panen berlipat ganda, serta akibat pengukuran ulang. Tidak diremehkan pula kegigihan para mandor melakukan kontrol menjelang potong padi.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/jampang.html' rel='bookmark' title='Jampang'>Jampang</a> <small>Bayi yang masih merah itu lahir dan menangis keras sekali. "Syukur anak pertamaku sudah lahir," kata ayahnya dengan gembira. Setelah seminggu, anak itu ditimang-timang. Ibunya memperhatikan dengan khawatir.......</small></li></ol>]]></description> <wfw:commentRss>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/hari-hari-akhir-si-pitung.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>16</slash:comments> </item> <item><title>Pangeran Sarif</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/pangeran-sarif.html</link> <comments>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/pangeran-sarif.html#comments</comments> <pubDate>Sun, 31 Jul 2011 14:33:15 +0000</pubDate> <dc:creator>Pendongeng</dc:creator> <category><![CDATA[Nusantara]]></category> <category><![CDATA[asal nama]]></category> <category><![CDATA[batavia]]></category> <category><![CDATA[belanda]]></category> <category><![CDATA[betawi]]></category> <category><![CDATA[bijaksana]]></category> <category><![CDATA[cerita anak]]></category> <category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category> <category><![CDATA[dongeng anak]]></category> <category><![CDATA[islam]]></category> <category><![CDATA[Jakarta]]></category> <category><![CDATA[pangeran]]></category> <category><![CDATA[penjajah]]></category> <category><![CDATA[Sejarah]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=418</guid> <description><![CDATA[Jatuhnya Jayakarta ke tangan Kompeni Belanda pada tahun 1619 membuat banyak ulama marah. Mereka menjauhi keramaian kota dan pergi berbondong-bondong ke tempat yang lebih udik. Mereka melakukan persiapan, siapa tahu suatu saat dapat melakukan pembalasan untuk menguasai kota Jayakarta kembali. Walaupun kenyataannya sulit, mereka tidak kenal putus asa. Mereka terpaksa hidup di tepi-tepi hutan, sedangkan anak dan istri ditinggalkan beberapa saat. Hanya pada saat tertentu mereka berkumpul, sesudah itu berpisah kembali. Karena keadaan yang terus menekan, lama-kelamaan merepotkan juga kalau keluarga ditinggalkan. Mau tidak mau keluarga harus diajak. Salah seorang dari para ulama itu adalah Pangeran Sarif. Selain istri, ikut juga seorang pembantu lelakinya yang masih muda.
Related posts:<ol><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html' rel='bookmark' title='Entong Gendut Dari Batuampar'>Entong Gendut Dari Batuampar</a> <small>Pajak seyogianya diambil seperlima dari hasil panen. Bagian itu bisa berwujud padi, palawija, atau hasil pertanian lainnya, semuanya harus diserahkan kepada tuan tanah. Setelah tahun 1912, tuan tanah tidak mau lagi menerima bagian pajaknya. Dia minta kenaikan dua kali lipat. Alasannya, antara lain karena hasil panen jauh lebih bagus dari musim lalu. Dengan perbaikan sistem irigasi dari sungai ke sawah-sawah membuat hasil panen berlipat ganda, serta akibat pengukuran ulang. Tidak diremehkan pula kegigihan para mandor melakukan kontrol menjelang potong padi.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/asal-usul-kota-banjarmasin.html' rel='bookmark' title='Asal Usul Kota Banjarmasin'>Asal Usul Kota Banjarmasin</a> <small>Pada zaman dahulu berdirilah sebuah kerajaan bernama Nagara Daha. Kerajaan itu didirikan Putri Kalungsu bersama putranya, Raden Sari Kaburangan alias Sekar Sungsang yang bergelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan. Konon, Sekar Sungsang seorang penganut Syiwa. la mendirikan candi dan lingga terbesar di Kalimantan Selatan. Candi yang didirikan itu bernama Candi Laras. Pengganti Sekar Sungsang adalah Maharaja Sukarama. Pada masa pemerintahannya, pergolakan berlangsung terus-menerus. Walaupun Maharaja Sukarama mengamanatkan agar cucunya, Pangeran Samudera, kelak menggantikan tahta, Pangeran Mangkubumi-lah yang naik takhta.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/jampang.html' rel='bookmark' title='Jampang'>Jampang</a> <small>Bayi yang masih merah itu lahir dan menangis keras sekali. "Syukur anak pertamaku sudah lahir," kata ayahnya dengan gembira. Setelah seminggu, anak itu ditimang-timang. Ibunya memperhatikan dengan khawatir.......</small></li></ol>]]></description> <wfw:commentRss>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/pangeran-sarif.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>4</slash:comments> </item> <item><title>Mirah, Singa Betina Dari Marunda</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/mirah-singa-betina-dari-marunda.html</link> <comments>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/mirah-singa-betina-dari-marunda.html#comments</comments> <pubDate>Tue, 20 Apr 2010 17:00:31 +0000</pubDate> <dc:creator>Pendongeng</dc:creator> <category><![CDATA[Nusantara]]></category> <category><![CDATA[betawi]]></category> <category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category> <category><![CDATA[Jakarta]]></category> <category><![CDATA[pendekar]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=433</guid> <description><![CDATA[Pada suatu malam, centeng-centeng di rumah Babah Yong di Kemayoran terkapar di lantai. Babah Yong sendiri terikat di tiang ruang tengah. Perabot rumah berantakan. Barang-barang berharga dibawa kabur kawanan perampok.
Malam itu juga, Tuan Ruys penguasa daerah Kemayoran segera datang mempelajari bekas-bekas perampokan. Di situ juga Nadir Bek Kemayoran. Petugas lain yang ikut sibuk adalah para opas.
Related posts:<ol><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html' rel='bookmark' title='Entong Gendut Dari Batuampar'>Entong Gendut Dari Batuampar</a> <small>Pajak seyogianya diambil seperlima dari hasil panen. Bagian itu bisa berwujud padi, palawija, atau hasil pertanian lainnya, semuanya harus diserahkan kepada tuan tanah. Setelah tahun 1912, tuan tanah tidak mau lagi menerima bagian pajaknya. Dia minta kenaikan dua kali lipat. Alasannya, antara lain karena hasil panen jauh lebih bagus dari musim lalu. Dengan perbaikan sistem irigasi dari sungai ke sawah-sawah membuat hasil panen berlipat ganda, serta akibat pengukuran ulang. Tidak diremehkan pula kegigihan para mandor melakukan kontrol menjelang potong padi.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-angkri-jagoan-pasar-ikan.html' rel='bookmark' title='Si Angkri Jagoan Pasar Ikan'>Si Angkri Jagoan Pasar Ikan</a> <small> Bai sama juga. Begitu tahu kalau yang dihadapi tiga anggota keamanan yang lengkap dengan pentung dan senapan, Bai berlutut seketika. Kemudian giliran Angkri. Bek Kasan marah dan menantang Angkri berkelahi satu lawan satu. Angkri melayani. Pertarungan seru. Angkri mencabut goloknya. Akan tetapi, sudah didahului tendangan keras dari kaki Bek Kasan. Golok Angkri terpental ke lumpur. Seketika itu Angkri menggunakan jurus-jurus silatnya. Bek Kasan kena sodok perutnya. Jatuh telentang. Begitu Bek Kasan jatuh di tanah, Angkri meloncat dengan kedua lutut di depan. Biar mampus Bek Kasan. Mungkin perutnya bisa ambrol. Akan tetapi, Bek Kasan sudah memperhitungkan. Dia cepat mengelak ke kanan sehingga kedua lutut Angkri menghunjam ke batu. Setelah itu, Angkri tidak bisa berjalan. Kedua lututnya seperti pecah. Bek Kasan segera memegang kepala Angkri. Rambutnya ditarik, Angkri menyerah. Dia dibawa ke kantor opas di Kota Intan. Atas keputusan hakim, Angkri dianggap sebagai biangnya. Madun dan Bai masuk penjara beberapa tahun, sedangkan Angkri menjalani hukuman gantung.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/jampang.html' rel='bookmark' title='Jampang'>Jampang</a> <small>Bayi yang masih merah itu lahir dan menangis keras sekali. "Syukur anak pertamaku sudah lahir," kata ayahnya dengan gembira. Setelah seminggu, anak itu ditimang-timang. Ibunya memperhatikan dengan khawatir.......</small></li></ol>]]></description> <wfw:commentRss>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/mirah-singa-betina-dari-marunda.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>10</slash:comments> </item> <item><title>Jampang</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/jampang.html</link> <comments>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/jampang.html#comments</comments> <pubDate>Sun, 11 Apr 2010 17:00:52 +0000</pubDate> <dc:creator>Pendongeng</dc:creator> <category><![CDATA[Nusantara]]></category> <category><![CDATA[batavia]]></category> <category><![CDATA[belanda]]></category> <category><![CDATA[betawi]]></category> <category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category> <category><![CDATA[Jakarta]]></category> <category><![CDATA[pendekar]]></category> <category><![CDATA[penjajah]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=429</guid> <description><![CDATA[Bayi yang masih merah itu lahir dan menangis keras sekali. "Syukur anak pertamaku sudah lahir," kata ayahnya dengan gembira. Setelah seminggu, anak itu ditimang-timang. Ibunya memperhatikan dengan khawatir.
Related posts:<ol><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html' rel='bookmark' title='Entong Gendut Dari Batuampar'>Entong Gendut Dari Batuampar</a> <small>Pajak seyogianya diambil seperlima dari hasil panen. Bagian itu bisa berwujud padi, palawija, atau hasil pertanian lainnya, semuanya harus diserahkan kepada tuan tanah. Setelah tahun 1912, tuan tanah tidak mau lagi menerima bagian pajaknya. Dia minta kenaikan dua kali lipat. Alasannya, antara lain karena hasil panen jauh lebih bagus dari musim lalu. Dengan perbaikan sistem irigasi dari sungai ke sawah-sawah membuat hasil panen berlipat ganda, serta akibat pengukuran ulang. Tidak diremehkan pula kegigihan para mandor melakukan kontrol menjelang potong padi.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/pangeran-sarif.html' rel='bookmark' title='Pangeran Sarif'>Pangeran Sarif</a> <small>Jatuhnya Jayakarta ke tangan Kompeni Belanda pada tahun 1619 membuat banyak ulama marah. Mereka menjauhi keramaian kota dan pergi berbondong-bondong ke tempat yang lebih udik. Mereka melakukan persiapan, siapa tahu suatu saat dapat melakukan pembalasan untuk menguasai kota Jayakarta kembali. Walaupun kenyataannya sulit, mereka tidak kenal putus asa. Mereka terpaksa hidup di tepi-tepi hutan, sedangkan anak dan istri ditinggalkan beberapa saat. Hanya pada saat tertentu mereka berkumpul, sesudah itu berpisah kembali. Karena keadaan yang terus menekan, lama-kelamaan merepotkan juga kalau keluarga ditinggalkan. Mau tidak mau keluarga harus diajak. Salah seorang dari para ulama itu adalah Pangeran Sarif. Selain istri, ikut juga seorang pembantu lelakinya yang masih muda.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-panjang.html' rel='bookmark' title='Si Panjang'>Si Panjang</a> <small>Kompeni Belanda pada abad ke-18 di Batavia merasa menghadapi masalah besar. Hambatan itu datang dari kalangan pedagang. Pelopornya adalah para tauke. Saingan ini memang amat licin karena para tauke dan organisasinya begitu terpadu. Sampai ke pelosok-pelosok mereka punya jaringan yang rapi dan tidak kentara, terutama dalam bidang perdagangan. Kalau harga yang satu naik, harga yang lain ikut naik. Tidak ada yang berbeda. Begitu juga dengan barang-barang mana yang harus muncul dan mana pula yang tidak dikeluarkan dulu. Semua demi keuntungan para tauke.......</small></li></ol>]]></description> <wfw:commentRss>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/jampang.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Entong Gendut Dari Batuampar</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html</link> <comments>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html#comments</comments> <pubDate>Sun, 11 Apr 2010 17:00:10 +0000</pubDate> <dc:creator>Pendongeng</dc:creator> <category><![CDATA[Nusantara]]></category> <category><![CDATA[batavia]]></category> <category><![CDATA[belanda]]></category> <category><![CDATA[betawi]]></category> <category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category> <category><![CDATA[islam]]></category> <category><![CDATA[Jakarta]]></category> <category><![CDATA[Pahlawan]]></category> <category><![CDATA[pendekar]]></category> <category><![CDATA[penjajah]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=424</guid> <description><![CDATA[Pajak seyogianya diambil seperlima dari hasil panen. Bagian itu bisa berwujud padi, palawija, atau hasil pertanian lainnya, semuanya harus diserahkan kepada tuan tanah. Setelah tahun 1912, tuan tanah tidak mau lagi menerima bagian pajaknya. Dia minta kenaikan dua kali lipat. Alasannya, antara lain karena hasil panen jauh lebih bagus dari musim lalu. Dengan perbaikan sistem irigasi dari sungai ke sawah-sawah membuat hasil panen berlipat ganda, serta akibat pengukuran ulang. Tidak diremehkan pula kegigihan para mandor melakukan kontrol menjelang potong padi.
Related posts:<ol><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/mirah-singa-betina-dari-marunda.html' rel='bookmark' title='Mirah, Singa Betina Dari Marunda'>Mirah, Singa Betina Dari Marunda</a> <small>Pada suatu malam, centeng-centeng di rumah Babah Yong di Kemayoran terkapar di lantai. Babah Yong sendiri terikat di tiang ruang tengah. Perabot rumah berantakan. Barang-barang berharga dibawa kabur kawanan perampok. Malam itu juga, Tuan Ruys penguasa daerah Kemayoran segera datang mempelajari bekas-bekas perampokan. Di situ juga Nadir Bek Kemayoran. Petugas lain yang ikut sibuk adalah para opas.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/jampang.html' rel='bookmark' title='Jampang'>Jampang</a> <small>Bayi yang masih merah itu lahir dan menangis keras sekali. "Syukur anak pertamaku sudah lahir," kata ayahnya dengan gembira. Setelah seminggu, anak itu ditimang-timang. Ibunya memperhatikan dengan khawatir.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/pangeran-sarif.html' rel='bookmark' title='Pangeran Sarif'>Pangeran Sarif</a> <small>Jatuhnya Jayakarta ke tangan Kompeni Belanda pada tahun 1619 membuat banyak ulama marah. Mereka menjauhi keramaian kota dan pergi berbondong-bondong ke tempat yang lebih udik. Mereka melakukan persiapan, siapa tahu suatu saat dapat melakukan pembalasan untuk menguasai kota Jayakarta kembali. Walaupun kenyataannya sulit, mereka tidak kenal putus asa. Mereka terpaksa hidup di tepi-tepi hutan, sedangkan anak dan istri ditinggalkan beberapa saat. Hanya pada saat tertentu mereka berkumpul, sesudah itu berpisah kembali. Karena keadaan yang terus menekan, lama-kelamaan merepotkan juga kalau keluarga ditinggalkan. Mau tidak mau keluarga harus diajak. Salah seorang dari para ulama itu adalah Pangeran Sarif. Selain istri, ikut juga seorang pembantu lelakinya yang masih muda.......</small></li></ol>]]></description> <wfw:commentRss>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>5</slash:comments> </item> <item><title>Si Angkri Jagoan Pasar Ikan</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-angkri-jagoan-pasar-ikan.html</link> <comments>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-angkri-jagoan-pasar-ikan.html#comments</comments> <pubDate>Wed, 10 Mar 2010 08:33:09 +0000</pubDate> <dc:creator>Pendongeng</dc:creator> <category><![CDATA[Nusantara]]></category> <category><![CDATA[betawi]]></category> <category><![CDATA[Cerita Rakyat]]></category> <category><![CDATA[jahat]]></category> <category><![CDATA[Jakarta]]></category> <category><![CDATA[pendekar]]></category> <category><![CDATA[sombong]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=410</guid> <description><![CDATA[
Bai sama juga. Begitu tahu kalau yang dihadapi tiga anggota keamanan yang lengkap dengan pentung dan senapan, Bai berlutut seketika. Kemudian giliran Angkri. Bek Kasan marah dan menantang Angkri berkelahi satu lawan satu. Angkri melayani. Pertarungan seru. Angkri mencabut goloknya. Akan tetapi, sudah didahului tendangan keras dari kaki Bek Kasan. Golok Angkri terpental ke lumpur. Seketika itu Angkri menggunakan jurus-jurus silatnya. Bek Kasan kena sodok perutnya. Jatuh telentang. Begitu Bek Kasan jatuh di tanah, Angkri meloncat dengan kedua lutut di depan. Biar mampus Bek Kasan. Mungkin perutnya bisa ambrol. Akan tetapi, Bek Kasan sudah memperhitungkan. Dia cepat mengelak ke kanan sehingga kedua lutut Angkri menghunjam ke batu. Setelah itu, Angkri tidak bisa berjalan. Kedua lututnya seperti pecah. Bek Kasan segera memegang kepala Angkri. Rambutnya ditarik, Angkri menyerah. Dia dibawa ke kantor opas di Kota Intan. Atas keputusan hakim, Angkri dianggap sebagai biangnya. Madun dan Bai masuk penjara beberapa tahun, sedangkan Angkri menjalani hukuman gantung.
Related posts:<ol><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/jampang.html' rel='bookmark' title='Jampang'>Jampang</a> <small>Bayi yang masih merah itu lahir dan menangis keras sekali. "Syukur anak pertamaku sudah lahir," kata ayahnya dengan gembira. Setelah seminggu, anak itu ditimang-timang. Ibunya memperhatikan dengan khawatir.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/mirah-singa-betina-dari-marunda.html' rel='bookmark' title='Mirah, Singa Betina Dari Marunda'>Mirah, Singa Betina Dari Marunda</a> <small>Pada suatu malam, centeng-centeng di rumah Babah Yong di Kemayoran terkapar di lantai. Babah Yong sendiri terikat di tiang ruang tengah. Perabot rumah berantakan. Barang-barang berharga dibawa kabur kawanan perampok. Malam itu juga, Tuan Ruys penguasa daerah Kemayoran segera datang mempelajari bekas-bekas perampokan. Di situ juga Nadir Bek Kemayoran. Petugas lain yang ikut sibuk adalah para opas.......</small></li><li><a
href='http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/entong-gendut-dari-batuampar.html' rel='bookmark' title='Entong Gendut Dari Batuampar'>Entong Gendut Dari Batuampar</a> <small>Pajak seyogianya diambil seperlima dari hasil panen. Bagian itu bisa berwujud padi, palawija, atau hasil pertanian lainnya, semuanya harus diserahkan kepada tuan tanah. Setelah tahun 1912, tuan tanah tidak mau lagi menerima bagian pajaknya. Dia minta kenaikan dua kali lipat. Alasannya, antara lain karena hasil panen jauh lebih bagus dari musim lalu. Dengan perbaikan sistem irigasi dari sungai ke sawah-sawah membuat hasil panen berlipat ganda, serta akibat pengukuran ulang. Tidak diremehkan pula kegigihan para mandor melakukan kontrol menjelang potong padi.......</small></li></ol>]]></description> <wfw:commentRss>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-angkri-jagoan-pasar-ikan.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> <item><title>Si Pitung</title><link>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-pitung.html</link> <comments>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-pitung.html#comments</comments> <pubDate>Fri, 22 May 2009 16:07:56 +0000</pubDate> <dc:creator>Pendongeng</dc:creator> <category><![CDATA[Nusantara]]></category> <category><![CDATA[Tokoh]]></category> <category><![CDATA[belanda]]></category> <category><![CDATA[betawi]]></category> <category><![CDATA[Jakarta]]></category> <category><![CDATA[Pahlawan]]></category> <category><![CDATA[pendekar]]></category> <category><![CDATA[penjajah]]></category> <guid
isPermaLink="false">http://dongeng.org/?p=238</guid> <description><![CDATA[Pitung adalah salah satu pendekar orang asli Indonesia berasal dari daerah betawi yang berasal dari kampung Rawabelong Jakarta Barat. Pitung dididik oleh kedua orang tuanya berharap menjadi orang saleh taat agama. Ayahnya Bang Piun dan Ibunya Mpok Pinah menitipkan si Pitung untuk belajar mengaji dan mempelajari bahasa Arab kepada Haji Naipin.
No related posts.]]></description> <wfw:commentRss>http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-pitung.html/feed</wfw:commentRss> <slash:comments>59</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- This Quick Cache file was built for (  dongeng.org/tag/jakarta/feed ) in 1.23451 seconds, on May 22nd, 2012 at 3:45 am UTC. -->
<!-- This Quick Cache file will automatically expire ( and be re-built automatically ) on May 22nd, 2012 at 4:45 am UTC -->
